Senin, 28 Desember 2015

Surat Rindu Untukmu, Ya habiballah bag.I



Ketika aku sedang sendiri, aku termenung dan men-tadabburi apa yang selama ini telah terjadi padaku.
Semuanya. Dan ketika aku terlalu capai dalam kesendirian itu, aku selalu rindu denganmu. Aku tahu, ada Allah yang selalu mengawasiku, ada Allah yang bisa mendengar, merasakan, apapun itu yang ada padaku. Tapi aku rindu ingin bicara langsung padamu. Meskipun aku tahu, aku bukanlah hambaNya yang alim. Amat sangat jauh dari kata alim bahkan sempurna. Tapi aku selalu berusaha agar bisa selalu dicintaiNya.
Ya, aku rindu bisa curhat denganmu. Pasti rasanya seru. Ya, mungkin seperti aku cerita-cerita dengan lugu, dengan polosnya aku kepada bapakku ketika aku kecil dulu. Aku sangat ingin sekali berbicara denganmu, ngobrol hanya berdua saja denganmu. Belajar darimu secara langsung. Aku ingin sekali kau memberiku nasihat-nasihat yang menyejukkan hati. Yang membuatku selalu jatuh hati padamu dan tentu menambah ketaqwaanku padaNya. Ya, karena kau adalah sang terpilih.
Rasanya aku sangat dan ingin sekali melihat wajahmu secara langsung. Menyatakan rinduku selama ini padamu dan menceritakan segala hal padamu. Ya, curhat tepatnya. Tapi, apakah jika itu terjadi, masihkah kau akan menyapaku? Sedangkan aku manusia yang sangat lemah. Meskipun aku tahu, aku berusaha untuk kuat dan berjuang. Rasanya aku malu sekali jika aku akan menyapamu lebih dulu. Aku selalu ingin kau yang menyapaku terlebih dahulu. Mungkin itu tidaklah lucu. Karena layaknya seorang yang benar-benar dikagumi banyak orang lain (katakan saja seperti artis), dan aku berada ditengah kerumunan orang-orang untuk berebut tanda tanganmu, kalau aku tak menyodorkan kertas itu padamu, akankah kau melirikku? Ya, aku tahu, analaoginya seperti itu. Makanya aku iri kepada orang-orang yang ilmu agamanya tinggi, bisa lebih merindukanmu dan mencintaiNya. Tapi aku selalu berusaha. Dan kau tahu, untuk berjuang dalam hal itu dibutuhkan upaya ataupun tenaga yang luarbiasa maha dahsyatnya bagiku.
Sekali lagi aku ingin sekali melihatmu, bercerita hanya padamu, tentang apa saja yang telah kualami, orang-orang disekitarku, apa yang mereka lakukan padaku, keluargaku, bahkan agamaNya. Aku tahu, kita terpisah jarak yang amat sangat jauh sekali. Belasan abad. Namun, ketika aku rindu ingin jumpa denganmu, aku bertanya pada diriku sendiri, bekal apa yang akan aku siapkan ketika bertemu denganmu? Ah, aku selalu berharap lagi-lagi kau yang lebih peka, bukan aku. Hina sekali aku. Ilmuku masih dangkal. Aku selalu berharap Allah selalu membukakan pintu mata hati dan pikiranku agar aku selalu menerima semua bukti-bukti yang nyata yang ada disekitarku.
Aku selalu ingin cerita padamau, wahai kekasihNya. Terutama kenapa aku 'berbeda' diantara mereka semua? Layaknya aku orang asing. Iri, dengki, hasud, apapun itu sebutannya, terjadi pada mereka?
Kau tahu? Aku sedang menangis saat menulis ini. Kenapa itu semua? Maafkan aku jika terlalu terbawa emosi. Tapi memang inilah kenyataannya. Aku tak bisa membayangkan dirimu. Aku tak bisa membayangkan betapa kerasnya pada masa zamanmu, ya rasulallah.  Aku specchless saat aku berhadapan dengan mereka semua. Aku selalu mengatakan pada diriku dan agar menguatkan diriku sendiri, bahwasannya ini hanya sementara. Ya, layaknya mimpi ketika aku tidur, suatu saat aku pasti akan terbangun dari mimpi-mimpi buruk itu. Aku galau, ya nabiyullah. Aku hamba yang bodoh sekali. Selalu minta petunjuk yang terbaik, tapi aku sendiri kurang peka. Aku mah apa atuh?  Ah, terlalu banyak yang ingin aku tuliskan. Tapi, aku rasa aku kehilangan kata-kata. I'm specchless. Apa yang harus aku katakan lagi. Tapi, satu yang pasti. Aaaaahhhh, aku mrebes mili nih. Dalam hatiku banyak sekali pertanyaan. Dan kau tahu, wahai yang terpilih, salah satu cara untuk menguatkan diriku sendiri adalah menatap langit. Membuktikan betapa kecilnya aku, betapa tak berdayanya aku tanpaNya, tanpa arahanNya yang disampaikan melaluimu. Dan ketika hendak hujan maupun hujan. Aku selalu merentangkan kedua tanganku dan berusaha merasakan hembusan angin menusuk kalbuku. Karena aku selalu berharap seperti itulah yang seharusnya mereka rasakan. Sejuk, tentram, dingin. Ah, terlalu indah dibayangkan. Tapi kenapa seakan 'bilnd' terhadap itu semua? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Dan tahukah kau wahai kekasihnya, pernah ada seorang pemuda yang bilang padaku "jika ia jatuh cinta pada seseorang, maka jatuhkanlah ia pada orang yang jatuh cinta padaNya. Agar bertambah pula cintanya padaNya. Dan ketika ia rindu dengan seseorang, maka rindukanlah ia pada yang rindu padaNya. Agar bertambah rindunya padaNya pula." Dan ada beberapa kalimat yang aku lupa. Entah aku tak tahu pasti ia dapat darimana, karena waktu itu aku menganggapnya biasa saja. Dan ternyata setelah aku pikir-pikir, sepertinya memang benar. Dan kau tahu apa yang aku lakukan saat itu? Aku merasa aku tak siap untuk menempatkannya dalam hatiku. Kecuali DIA dan dirimu. Aku tak mau namanya begitu jelas terukir mengalahkan namaNya dan namamu. Jadi, waktu itu aku marah, oh bukan  marah si, ah entahlah, memang harus berada jauh saja, karena aku teringat akan ilmu yang pernah aku pelajari dari buku, entah lupa aku, yang waktu itu aku sedang sendirian saat jam istirahat pada masa SMPku.  Jadi, semoga pemuda itu bisa mengerti jalan pikiranku. Memang si, semuanya berawal dari pengazzaman dalam diri, tapi terkadang aku takut pada diriku sendiri. Ah, terlalu banyak kata dalam hatiku yang ingin kusampaikan. Mungkin lain kali aku akan bercerita lagi, untuk saat ini aku ingin mengistirahatkan punggungku. Karena besok aku harus mengantarkan ibuku. Ya, salah satu peringatan yang kau samapikan adalah "Ibumu, ibumu, ibumu, barulah ayah." Dengan berjalannya waktu, dan semakin dewasanya aku, aku mulai mengerti. Ya, karena memang kelak, dengan izinNya, aku adalah 'tongkat estafet' dari ibuku. Doakan aku ya. Agar aku kuat berada dizamanku. Oh ya, salah satu firmaNya yg bisa menguatkanku adalah Wakafaa billahi syahida. Meskipun banyak sekali ejekan tentang hal itu, tapi aku yakin, itu berhasil. Ya, karena memang wa kafaa billahi syahida

Dari penggemarmu yang rindu ingin bertemu denganmu. Apalagi rindu curhat-curhatan denganmu.

Kamis, 10 Desember 2015

Ibumu, Ibumu, Ibumu


Entah minggu atau senin, aku lupa, karena aku tak langsung meninggalkan jejak itu.
Dan hari ini adalah hari kamis. Latepost? Tentu. Tapi, inilah yang aku suka dari skenarioNya.
Ya, waktu itu adalah jadualku untuk mengajar privat di rumah sahabat 'kecil'ku.
Ketika sampai disana dan pelajaran akan dimulai, tetiba dia nangis begitu saja dengan mulut bergumam "mama".
Ya, tak aneh memang jika ia memanggil-manggil mamanya. Karena bisa dibilang, waktu yang dia punya bersama mamanya tak seperti anak kebanyakan.
Profesi mamanya adalah dokter, yang mengharuskan beliau pergi ke kliniknya.
Tapi, tak lama kemudian mamanya pun datang. Dan aku bisa merasakan saat itu, sehingga aku akhirnya pamit undur diri, dan menyarankan agar mamanya mengambil alih proses belajar saat itu.
Allah, sungguh. Sungguh kejadian waktu itu bagiku memilukan. Tentu saja, seumurnya dulu, aku pernah merasakan yang hal sama. Bahkan lebih parah. Ya, waktu itu tentang ayahku.
Ditinggal ayah luar kota beberapa hari, membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Pun dengan ibu, ketika aku sakit waktu itu. Ya, aku masih mengingatnya. Wajah itu, tempat itu, suara itu, kejadian itu.
Allah, disini, aku mengambil hikmah yang luar biasa. Bahwasannya, orangtua adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya. Ya, keluarga sebagai tempat kita bernaung dari lingkungan luar yang begitu berwarnanya. Tentu ini adalah pesan dari sakinah, mawaddah dan warrahmah. Serta tentu saja, posisi seorang ibu yang begitu berarti. Dan dari sinilah aku belajar. Ya, belajar menjadi sosok itu. InsyaAllah.
Memang seorang ibu dituntut pandai, multitasking, dan apapun itu sebutannya, tapi tugas besarnya adalah satu mendidik anak-anak yang merupakan investasi dunia dan akhirat mereka. Allah, actually, i'm so speachless that time.  Allahuakbar..
Wa kafaa billahi syahida.