Jumat, 28 Agustus 2015

TPQ Series 2

Kamis 12 februari 2015. Mungkin, bisa dibilang seharian merupakan hari yang tak ‘bersahabat’. Terlalu banyak distorsi yang tak bisa ditepis. Namun saat sore dan waktunya mengajar,

“Bu, kenapa tidak mengajar di kelas kita lagi? Saya tak suka, saya tak suka mah.” suara manja Abi, salah satu murid TPQ, dengan menirukan gaya bahasa upin ipin sambil memelukku.

“Ibu sekarang mengajar di ummi satu. Kalian kan ummi empat, bacaan kalian juga sudah bagus, sekarang gantian ustadz-ustadzah lain yang akan menyimak kalian.” suaraku menenangkan mereka.

“Ahhh, enakan sama bu Wardah.” Firman, temannya yang lainnya pun mulai memukulku dengan manja.

Setelah jam berakhir pun, mereka masuk ke kelasku dan ikut menyimak sedikit kondisi di ummi satu.

Pelajaran hari ini, sepenat apapun dirimu, kehadiranmu masih dinantikan oleh orang-orang yang ada disekitarmu. Jangan pernah merasa ‘lelah’ karena istirahatmu hanya ada di surga. Berusahalah untuk tetap bisa ‘menegakkan tubuhmu’ meskipun harus terseok-seok. karena, wakafaa billahisyahida....

Bersambung..

Rabu, 26 Agustus 2015

Peduli Ketemen

"Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya." (HR. Ahmad)

----------------------------

X: Tapi, pada suatu kesempatan saya selalu memberikan cokelat ke temen saya. Dan rata-rata itu, semua penawaran saya ditolak. Kan padahal itu makanan juga termasuk favorit saya. Kok bisa ditolak gitu? Padahal kan, kalau saya aja yang makan, sepertinya ga peduli banget ketemen.

Z: Memangnya, kamu beri makanan itu kesiapa? Ketemen laki-laki atau perempuan?

X: Laki-laki..

Z: Duh, *sambil tepok jidat

X: Coba nih cokelat aku kasih ke kamu, mau?

Z: Enggak ah, gigiku ntar keropos?!

X: Tuh kan, reaksinya rata-rata kek gitu tuh..

Z: ???@@!@!@!!!.&&**&*$$%$$



X=perempuan
Z=laki-laki

Jalan pikiran yang berbeda?

Terlalu memenuhi kebutuhan umat dari pada kebutuhan pribadi? Apakah itu berlebihan? Entah.
Apakah kalian pernah mendengar bahwa 'orang yang pintar itu adalah orang yang memikirkan hari akhir'? Maksudnya orientasi manhajnya kearah sana? Pernah nemuin hal seperti itu?
Iya juga si. Memang ada benernya juga. Karena kan memang kehidupan selanjutnya ada disana nanti. Jadi, apapun yang dilakukan dialam yang sementara ini, sebagai tabungan / investasi yang paling besar untuk kehidupan nanti. Saking 'asik'nya, sampek kelupaan prioritasnya harus diselesaikan. Makanya, namanya aja manusia, kadang juga ada lupanya. Jadi, kudu saling mengingatkan yaa..

To be continued.....

Selasa, 25 Agustus 2015

Aku 'hanya' Melihat

Entahlah semua ini adalah serangkaian misteri atau suatu rahasia yang sangat indah. Sampai kapanpun rahasia terbesar itu kemungkinan tak ada bisa dipecahkan begitu saja. Ya, aku belajar dari apapun yang berada disekitar. Mengamati, mungkin ya itulah istilahnya. Kejadian demi kejadian. Peristiwa demi peristiwa. Dan tentu diperlukan sikap penyelesaiannya. Karena hidup pasti akan ada akhirnya. Tapi, jika hanya terfokus pada hal-hal itu saja, apakah bisa keluar dari hal itu? Tentu diperlukan 'kekuatan' melawan itu semua bukan.? Jadi, jika ada yang mengatakan berpikirlah dewasa, sebenarnya itu tak menjamin. Dewasa senidiri merupakan suatu usaha atau upaya untuk myelerasakan antara jiwa dan pusat pengendali kita. Dimana semuanya sudah tertera dalam suatu framework yang luar biasa sudah dikabarkan kepada kita. Nah, tinggal kita olah saja dan selaraskan antara jiwa kita dengan pusat pengendali kita.

Bersambung.....

Jumat, 21 Agustus 2015

Divergent Not Different

Ada kalanya kau harus berubah menjadi kupu-kupu ditengah kumpulan tanaman yang beragam.
Ada kalanya kau harus berubah menjadi kunang-kunang ditengah gelapnya gulita.
Dan ada kalanya pula kau harus berubah menjadi mawar merah yang berada ditepi jurang.

Ya, menjadi dirimu yang sebenarnya adalah anugerah terindah. Tak perlu repot-repot menjadi orang lain. Dirimu indah tatkala kau menjadi pribadi yang ada pada dirimu sendiri. Yang bisa jadi itu adalah keberkahan bagi orang lain, yang bisa jadi bermanfaat bagi orang lain.

Jangan pernah merasa lelah. Karena jika kau lelah dalam hal kebaikan, maka lelah itu akan hilang dan keabaikan itu akan abadi. Pun sebaliknya. Jika kau lelah dalam hal keburukan, maka kelelahan itu akan hilang dan keburukan itu akan abadi. Jadi tinggal pilih saja. Kebaikan yang tersisa atau keburukan yang tersisa? Tentu menginginkan kebaikan yang tersisa bukan.. Maka jadikan kelelahan itu sebagai waktu istirahatmu. Karena sungguh tempat istirahat yang paling baik adalah ketika kita sudah berjumpa denganNya.

Ngapain, repot-repot minta nilai dimata manusia? Bukankah nilai yang terbaik adalah berasal dariNya? Karena yang memberikan suatu kondisi adalah Dia. Jadi ya yang menilai adalah Dia. Tinggal prosesnya aja, bagaimana kau bisa melewatinya. Kena kartu kuning? Kartu merah, atau kartu lainnya? (eheh)

Justru karena kau adalah 'divergent' bukan berarti kau adalah 'different'. Kau special. Karena tak ada makhluk lain seperti dirimu. Ya, kau makhluk yang limited edition (hooho). Jadi, semangatlah dengan apa yang ada dalam dirimu. Bukan menjadi orang lain.

Bersambung....

Masih Rahasia Kok....

Oke, hanya saja selama ini banyak sekali pertanyaan yang bersemayam dalam pikiranku. Dan salah satunya sudah terjawabkan.

Dari dulu, aku ingin berkomunikasi dengan beliau-beliau. Ya, kepada semua kakek nenekku. Entahlah, aku hanya ingin tau track record mereka, berbincang-bincang, ingin tahu perjuangan mereka dalam melawan penjajah dulu. Ya, sharing seperti aku ngobis (ngobrol inspirasi) bersama bapakku. Ya, aku hanya ingin tahu saja, bagaimana cara mereka selama didunia. Karena kelak 'tongkat estafet' itu akan terus beralih dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Dan tentu, aku pernah baca "bahwa janganlah kamu ajarkan kepada anakmu sesuai dengan kondisimu, tetapi ajarkanlah kepada mereka sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena mereka akan hidup dmasa yang berbeda dengan masa kita". Jadi mungkin iya, kepo (rasa ingin tahu)ku terlalu besar. Hanya saja, aku ingin mempersiapkan.

Tapi, pertanyaan-pertanyaan itu tak tersampaikan dengan detail, gamblang, bahkan dengan sesempurna seperti aku dan bapakku duduk berdua di teras dengan ditemani angin malam yang dingin serta rembulan yang terang benderang. Karena ketiga kakek nenekku telah tiada. Sampai saat ini pertanyaan itu masih tersimpan dengan rapi. Dan aku sempat berpikir juga, pasti kalaulah beliau-beliau ini mengerti dan melihat kami, anak cucunya. Dan paham betul apa yang kini tengah terjadi.

Ternyata, dibulan Ramadhan kemarin, tahun 1436H, pertanyaan itu sedikit terjawab dari acara kajian di salah satu tv swasata Indonesia. Bahwasannya orang yang sudah meninggal dengan orang yang belum meninggal itu layaknya diantara kita ada sekat kaca. Orang-orang yang meninggal berada di masa penantian (alam barzah) sehingga mereka bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di dunia. Sedangkan orang-orang yang masih hidup tak bisa melihat mereka yang telah meninggal.

Jadi, aku rasa pertanyaanku selama ini akan tersimpan rapih, dan segera (Dengan izin Allah SWT) akan terjawab dengan seiringnya waktu.
Aku hanya bisa berucap, aku rindu. Aku sangat rindu dengan kalian semua. Yang tersisa kenangan jempol besar kaki kiri kakek saat aku membopoj kakek ke kamar mandi (entah, sedikit lupa). Karena aku rasa engkau begitu misterius, dan aku pingin tahu. Tapi, inilah hidup. Ada awal, ada akhir. Ada suka, ada duka. Ada damai, ada kericuhan. Tapi, aku hanya ingin belajar dari sosok2 kalian. Karena memang 'tongkat estafet' berwarna emas. Dan kami semua tak ingin menjadikannya berubah warna.

Bersambung...

Jum'at, 6 Dzulqo'dah 1436 H / 21 Agustus 2015 M

Rabu, 12 Agustus 2015

Tadabbur

Kau boleh saja melihat segala atribut yang ada pada diriku
Kau boleh saja meniru tanpa ada modifikasi dalam hal yang sama denganku
Tentu saja kau boleh bertingkah laku sama persis denganku
Tapi aku mohon pahami satu hal dariku,
Sejatinya diriku ini adalah pembelajar
Ya, aku tak bisa jika sehari saja tak belajar
Belajar dari orang yang ku lihat
Belajar dari lingkungan sekitar
Belajar dari keadaan yang ku alami
Karena sejatinya diri ini hanyalah manusia biasa
Yang tetap dituntut untuk belajar
Terutama menyelaraskan antara soul and mind
Ya, antara iman dan fikiran kita
Dengan berusaha mengaplikasikan ilmu yang selama ini didapat
Ya, silakan saja kau menjiplak dengan sangat jelas semua yang ada pada diriku
Tapi ingatlah, ini semua harus dipertanggungjawabkan
Kita sebagai penerima tongkat estafet itu, berkewajiban untuk memberikan
Pada penerima tongkat estafet yang lain
Tentu saja, cara kita memberikannya pun dipertanggungjawabkan
Karena aku ingat akan pengazzaman diri yang dulu-dulu
Kita sebagai manusia hanya makhluk kecil
Yang kelak, cepat atau lambat kita akan segera bertemu denganNya
Jadi aku mohon jiplaklah aku dengan rasa tanggungjawab yang besar
Karena ini adalah misi kita sesungguhnya

Sore senja setelah menjenguk rekan guru TPQ melahirkan
12 Agustus 2015