Senin, 28 Desember 2015

Surat Rindu Untukmu, Ya habiballah bag.I



Ketika aku sedang sendiri, aku termenung dan men-tadabburi apa yang selama ini telah terjadi padaku.
Semuanya. Dan ketika aku terlalu capai dalam kesendirian itu, aku selalu rindu denganmu. Aku tahu, ada Allah yang selalu mengawasiku, ada Allah yang bisa mendengar, merasakan, apapun itu yang ada padaku. Tapi aku rindu ingin bicara langsung padamu. Meskipun aku tahu, aku bukanlah hambaNya yang alim. Amat sangat jauh dari kata alim bahkan sempurna. Tapi aku selalu berusaha agar bisa selalu dicintaiNya.
Ya, aku rindu bisa curhat denganmu. Pasti rasanya seru. Ya, mungkin seperti aku cerita-cerita dengan lugu, dengan polosnya aku kepada bapakku ketika aku kecil dulu. Aku sangat ingin sekali berbicara denganmu, ngobrol hanya berdua saja denganmu. Belajar darimu secara langsung. Aku ingin sekali kau memberiku nasihat-nasihat yang menyejukkan hati. Yang membuatku selalu jatuh hati padamu dan tentu menambah ketaqwaanku padaNya. Ya, karena kau adalah sang terpilih.
Rasanya aku sangat dan ingin sekali melihat wajahmu secara langsung. Menyatakan rinduku selama ini padamu dan menceritakan segala hal padamu. Ya, curhat tepatnya. Tapi, apakah jika itu terjadi, masihkah kau akan menyapaku? Sedangkan aku manusia yang sangat lemah. Meskipun aku tahu, aku berusaha untuk kuat dan berjuang. Rasanya aku malu sekali jika aku akan menyapamu lebih dulu. Aku selalu ingin kau yang menyapaku terlebih dahulu. Mungkin itu tidaklah lucu. Karena layaknya seorang yang benar-benar dikagumi banyak orang lain (katakan saja seperti artis), dan aku berada ditengah kerumunan orang-orang untuk berebut tanda tanganmu, kalau aku tak menyodorkan kertas itu padamu, akankah kau melirikku? Ya, aku tahu, analaoginya seperti itu. Makanya aku iri kepada orang-orang yang ilmu agamanya tinggi, bisa lebih merindukanmu dan mencintaiNya. Tapi aku selalu berusaha. Dan kau tahu, untuk berjuang dalam hal itu dibutuhkan upaya ataupun tenaga yang luarbiasa maha dahsyatnya bagiku.
Sekali lagi aku ingin sekali melihatmu, bercerita hanya padamu, tentang apa saja yang telah kualami, orang-orang disekitarku, apa yang mereka lakukan padaku, keluargaku, bahkan agamaNya. Aku tahu, kita terpisah jarak yang amat sangat jauh sekali. Belasan abad. Namun, ketika aku rindu ingin jumpa denganmu, aku bertanya pada diriku sendiri, bekal apa yang akan aku siapkan ketika bertemu denganmu? Ah, aku selalu berharap lagi-lagi kau yang lebih peka, bukan aku. Hina sekali aku. Ilmuku masih dangkal. Aku selalu berharap Allah selalu membukakan pintu mata hati dan pikiranku agar aku selalu menerima semua bukti-bukti yang nyata yang ada disekitarku.
Aku selalu ingin cerita padamau, wahai kekasihNya. Terutama kenapa aku 'berbeda' diantara mereka semua? Layaknya aku orang asing. Iri, dengki, hasud, apapun itu sebutannya, terjadi pada mereka?
Kau tahu? Aku sedang menangis saat menulis ini. Kenapa itu semua? Maafkan aku jika terlalu terbawa emosi. Tapi memang inilah kenyataannya. Aku tak bisa membayangkan dirimu. Aku tak bisa membayangkan betapa kerasnya pada masa zamanmu, ya rasulallah.  Aku specchless saat aku berhadapan dengan mereka semua. Aku selalu mengatakan pada diriku dan agar menguatkan diriku sendiri, bahwasannya ini hanya sementara. Ya, layaknya mimpi ketika aku tidur, suatu saat aku pasti akan terbangun dari mimpi-mimpi buruk itu. Aku galau, ya nabiyullah. Aku hamba yang bodoh sekali. Selalu minta petunjuk yang terbaik, tapi aku sendiri kurang peka. Aku mah apa atuh?  Ah, terlalu banyak yang ingin aku tuliskan. Tapi, aku rasa aku kehilangan kata-kata. I'm specchless. Apa yang harus aku katakan lagi. Tapi, satu yang pasti. Aaaaahhhh, aku mrebes mili nih. Dalam hatiku banyak sekali pertanyaan. Dan kau tahu, wahai yang terpilih, salah satu cara untuk menguatkan diriku sendiri adalah menatap langit. Membuktikan betapa kecilnya aku, betapa tak berdayanya aku tanpaNya, tanpa arahanNya yang disampaikan melaluimu. Dan ketika hendak hujan maupun hujan. Aku selalu merentangkan kedua tanganku dan berusaha merasakan hembusan angin menusuk kalbuku. Karena aku selalu berharap seperti itulah yang seharusnya mereka rasakan. Sejuk, tentram, dingin. Ah, terlalu indah dibayangkan. Tapi kenapa seakan 'bilnd' terhadap itu semua? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Dan tahukah kau wahai kekasihnya, pernah ada seorang pemuda yang bilang padaku "jika ia jatuh cinta pada seseorang, maka jatuhkanlah ia pada orang yang jatuh cinta padaNya. Agar bertambah pula cintanya padaNya. Dan ketika ia rindu dengan seseorang, maka rindukanlah ia pada yang rindu padaNya. Agar bertambah rindunya padaNya pula." Dan ada beberapa kalimat yang aku lupa. Entah aku tak tahu pasti ia dapat darimana, karena waktu itu aku menganggapnya biasa saja. Dan ternyata setelah aku pikir-pikir, sepertinya memang benar. Dan kau tahu apa yang aku lakukan saat itu? Aku merasa aku tak siap untuk menempatkannya dalam hatiku. Kecuali DIA dan dirimu. Aku tak mau namanya begitu jelas terukir mengalahkan namaNya dan namamu. Jadi, waktu itu aku marah, oh bukan  marah si, ah entahlah, memang harus berada jauh saja, karena aku teringat akan ilmu yang pernah aku pelajari dari buku, entah lupa aku, yang waktu itu aku sedang sendirian saat jam istirahat pada masa SMPku.  Jadi, semoga pemuda itu bisa mengerti jalan pikiranku. Memang si, semuanya berawal dari pengazzaman dalam diri, tapi terkadang aku takut pada diriku sendiri. Ah, terlalu banyak kata dalam hatiku yang ingin kusampaikan. Mungkin lain kali aku akan bercerita lagi, untuk saat ini aku ingin mengistirahatkan punggungku. Karena besok aku harus mengantarkan ibuku. Ya, salah satu peringatan yang kau samapikan adalah "Ibumu, ibumu, ibumu, barulah ayah." Dengan berjalannya waktu, dan semakin dewasanya aku, aku mulai mengerti. Ya, karena memang kelak, dengan izinNya, aku adalah 'tongkat estafet' dari ibuku. Doakan aku ya. Agar aku kuat berada dizamanku. Oh ya, salah satu firmaNya yg bisa menguatkanku adalah Wakafaa billahi syahida. Meskipun banyak sekali ejekan tentang hal itu, tapi aku yakin, itu berhasil. Ya, karena memang wa kafaa billahi syahida

Dari penggemarmu yang rindu ingin bertemu denganmu. Apalagi rindu curhat-curhatan denganmu.

Kamis, 10 Desember 2015

Ibumu, Ibumu, Ibumu


Entah minggu atau senin, aku lupa, karena aku tak langsung meninggalkan jejak itu.
Dan hari ini adalah hari kamis. Latepost? Tentu. Tapi, inilah yang aku suka dari skenarioNya.
Ya, waktu itu adalah jadualku untuk mengajar privat di rumah sahabat 'kecil'ku.
Ketika sampai disana dan pelajaran akan dimulai, tetiba dia nangis begitu saja dengan mulut bergumam "mama".
Ya, tak aneh memang jika ia memanggil-manggil mamanya. Karena bisa dibilang, waktu yang dia punya bersama mamanya tak seperti anak kebanyakan.
Profesi mamanya adalah dokter, yang mengharuskan beliau pergi ke kliniknya.
Tapi, tak lama kemudian mamanya pun datang. Dan aku bisa merasakan saat itu, sehingga aku akhirnya pamit undur diri, dan menyarankan agar mamanya mengambil alih proses belajar saat itu.
Allah, sungguh. Sungguh kejadian waktu itu bagiku memilukan. Tentu saja, seumurnya dulu, aku pernah merasakan yang hal sama. Bahkan lebih parah. Ya, waktu itu tentang ayahku.
Ditinggal ayah luar kota beberapa hari, membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Pun dengan ibu, ketika aku sakit waktu itu. Ya, aku masih mengingatnya. Wajah itu, tempat itu, suara itu, kejadian itu.
Allah, disini, aku mengambil hikmah yang luar biasa. Bahwasannya, orangtua adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya. Ya, keluarga sebagai tempat kita bernaung dari lingkungan luar yang begitu berwarnanya. Tentu ini adalah pesan dari sakinah, mawaddah dan warrahmah. Serta tentu saja, posisi seorang ibu yang begitu berarti. Dan dari sinilah aku belajar. Ya, belajar menjadi sosok itu. InsyaAllah.
Memang seorang ibu dituntut pandai, multitasking, dan apapun itu sebutannya, tapi tugas besarnya adalah satu mendidik anak-anak yang merupakan investasi dunia dan akhirat mereka. Allah, actually, i'm so speachless that time.  Allahuakbar..
Wa kafaa billahi syahida.

Senin, 16 November 2015

Tertahan


Seperti angin, cintaMu tak terlihat namun teramat sejuk
Ya, aku hanya berusaha menutup mataku
Agar aku bisa melihat sosokmu yang ku rindukan
Agar aku bisa mengeja cintaNya melalui dirimu
Sumber: instagram
Ya, aku hanya berusaha dengan sekuat tenaga untuk memalingkan
Agar aku bisa merasakan keberkahan yang teramat sejuk
Agar aku bisa melafalkan rasa itu dengan sangat menyenangkan
Ya, aku hanya berusaha meringkuh ditiap waktuku
Agar aku bisa megharapkan kehadiranmu yang nyata atas pengharapan yang pernah ada
Agar aku bisa menitihkan air mata bersamamu dalam tiap sujud
Ya, aku hanya berusaha menyimpan semua tuk jadi kenangan
Agar aku bisa menceritakan kisah ini pada semua pengambil tongkat estafet itu
Agar aku bisa memertanggungjawabkan atas semua perjuangan
Ya, aku hanya berusaha diam yang semu
Agar aku bisa menjauhimu sebelum waktu yang ditentukan
Agar aku pun bisa merayu kepadaNya tentang dirimu yang ku rindu

Kamis, 12 November 2015

Rindu ini Memang Ada


Teruntuk kau yang ada disana
Mungkin untuk saat ini aku tak tau pasti dimana kau berada
Mungkin untuk saat ini juga aku tak tau pasti parasmu seperti apa
Tapi yang ku tau sosokmu adalah sebagai hadiah terindah dariNya
Dari penantianku yang lama
Dari perjuanganku memendam rasa yang pernah ada
Mungkin untuk saat ini kita tak bisa bertatap muka
Mungkin untuk saat ini juga kita tak bisa berbagi kisah
Tapi hadirmu menjadi penggenap agama
Jika kita tak bisa bertemu di jabal rahmah
Semoga kelak kita kan berjumpa di jannahNya
Tugasku hanyalah memerbaiki diri
Dari segala larangan sang Ilahi
Aku tau kau adalah cerminan diri
Maka dari itu aku berupaya membenahi jauh lebih baik lagi
Tapi tahukah kau bahwa hati ini menjerit
Menahan rasa yang begitu dahsyat membelenggu hati
Berharap padaNya kaulah yang segera hadir menjadi sang pemimpin
Aku tau kita akan selalu merindu
Aku pun tau kita tak sabar untuk bertemu 
Tapi do'a inilah yang kupanjatkan siang dan malam padaNya agar membuat kita bersatu

Rabu, 11 November 2015

Ku titipkan Pesan ini Lewat Malam



Malam setelah hujan menjadi malam dambaan setiap orang kala itu yang menanti akan hadirnya yang menghantam bumi. Memberikan bau khas air dan tanah. Pun tak lama setelahnya terdengar suara katak bersahutan ditengah pekatnya malam persawahan. Dan aku pun masih terjaga dalam dinginnya udara hingga menusuk kalbuku.

"Tuhan, terima kasih kau telah memberikan udara yang begitu sejuk. Sehingga aku bisa merasakannya untuk saat ini. Aku berharap, aku selalu bisa merasakan hal yang sama kelak dengan penggenap agamaku. Aku ingin berdua nanti, tentu dengan izinMu, saling mengasihi satu sama lain.Ah, iya, mungkin begitu nikmat jika kami saling bersatu. Berjuang bersama, membumikan cintaMu yang maha dahsyatnya kepada pengambil tahtaku kelak."

"Hey, nak, sedang apa kau diluar sana? Segera masuk rumah, seharian kau telah bercocok tanam di sawah dan kau hampir kehujanan yang tetiba mengguyur kita, tidakkah kau kedinginan?"

Suara mamak yang memecahkan lamunanku ketika melihat ciptaanMu yang begitu menajubkan.

"Iya, mak, sebentar lagi aku akan masuk rumah. Diluar, udaranya sejuk, jadi aku ingin masih berlama-lama disini."

"Baiklah kalau begitu, tunggu di teras dan duduklah sebentar. Mamak akan membuatkan secangkir teh yang menghangatkanmu."

"Iya, terima kasih mak."

"Tuhan, tolong jaga hatiku. Untuk sekarang, aku benar-benar merindukan dia. Ya, dia yang sama sekali aku tak pernah mengenalnya. Dia, yang sama sekali tak kuketahui dimana sekarang. Dia, yang bahkan wajahnya saja aku tak pernah melihatmya. Tolong, jagakan dia untukku Tuhan. Jagakan hati kami dari hal-hal yang tak Kau senangi. Aku rindu untuk bisa berjuang dengannya. Aku rindu untuk bisa menyebarkan rasa cintaMu kepada orang lain, membuktikan bahwa cinta dan kasihMu benar-benar ternikmat. Ku mohon, jaga kami. Lindungi kami, karena sebaik-baik tempat berlindung adalah kepadaMu."

"Akak? Akak di luar teras kah?"

"Iya, adek. Akak sekarang di luar."

"Akak, aku menuju ke tempatmu."

"Eh, tunggu, sini, biar akak bantu adek.
Sini duduk dipangkuan akak.
Mana tongkatmu?
Kenapa kau berjalan tanpa tongkatmu?"

"Tidak apa-apa akak, aku hanya ingin belajar saja. Sekali tak pakai tongkatku.
Kau sedang apa diluar kak?"

Aku menghela nafasku dan membuangnya begitu saja.
"Akak, hanya rehat diluar sambil merasakan sejuknya udara, dek."

"Ouh, iya, aku juga bisa merasakannya. Dingin, tapi untuk sekarang aku merasa hangat. Karena akak memelukku. Terus, ada apa lagi kak di luar sana?"

Aku menatapnya lamat-lamat. Melihat kedua matanya yang hanya bisa terpejam selamanya. Bibir mungilnya yang indah, seakan membuat hatiku meleleh dan ingin menetes untuk memeluknya lebih erat. Tapi aku harus tegar, akan semuanya yang telah terjadi.

"Di atas kepala adek, ada banyak bintang yang bertaburan. Kemerlip. Bak kunang-kunang punya adek dulu. Yang selalu memancarkan cahaya ketika gelap pekat datang."

"Pasti terlihat indah. Aku menyukai hal itu. Ceritakan lagi." Rayunya sambil memegang daguku. Seakan petanda ingin mengajakku bercerita jauh lebih banyak apa yang terjadi saat ini.

" Tidak ada apa-apa lagi di atas sana. Hany ada satu bintang yang terlihat besar diantara bintang-bintang yang ada."

"Oh, ya?"

"Iya."

"Apa berarti itu bintang pilihan akak? Yang selama ini akak mimpikan untuk bersanding dengan akak? Selalu menemani akak berjuang membumikan cinta sang pemilik bintang yang kita lihat sekarang ini bersama-sama?"

Deg. "Kenapa adekku tau apa yang aku rasakan saat ini? Bahwa aku merindukan dia yang sosoknya pun tak ku ketahui."

"Tidak apa akak. Adek senang kok, jika adek akan punya akak perempuan. Itu artinya adek punya teman bermain boneka saat akak dan mamak pergi ke sawah."

Tiba-tiba air mataku jatuh dan membasahi pipiku.

"Akak? Kenapa akak diam? Adakah akak sudah memilikinya? Kapan akak membawakannya padaku?"

"Nak, ini tehnya, ayo diminum dulu." Suara mamak yang keluar dari dalam rumah. "Kenapa adek ada di luar? Udaranya dingin, ayo masuk dulu sama mamak."

"Iya, mak. Tapi aku ingin belajar berjalan sendiri." Pinta adek.

"Segera habiskan minumnya nak. Dan setelah itu, segeralah masuk ke rumah. Tidak baik malam-malam kau hanya duduk-duduk diteras."

"Iya, mak." Sahutku.

"Tuhan, aku titipkan pesan ini kepadaMu, melalui udara sejuk dan bintang yang ada di atas sana, bahwa aku benar-benar membutuhkan dia. Dia yang selalu ku rindukan. Dia, yang selalu adek mimpikan. Dia, yang selalu kami tunggu. Segeralah Kau mengabulkan permohonanku ini. Dan tolong jagakan hati kami semua dalam menunggu jawabanMu.."

Selasa, 10 November 2015

Genggam Tanganku dan Mari Eja CintaNya Bersama

Apapun bentuknya cinta yang kau sematkan dalam jiwamu, maka selalu sediakan ruang yang namanya ikhlas. Karena hal itu tak bisa dipisahkan. Sampai perjuanganmu memertahankan istilah itu berakhir dipanggilNya. 

Dear all my sisters and brother.
Mungkin aku tak sepandai kalian sangka
Pun tak secerdik sang pujangga
Untuk mengartikan makna sesungguhnya cinta
Mungkin bagi kalian aku terlalu alay, terlalu lebay, dan anggapan lainnya
Tapi biarkan kali ini kau mendengarkanku lewat pesan sederhana ini
Ya, hanya dengarkan aku lewat pesan singkat ini

Aku tau, aku tak bisa mendefinisikan makna sesungguhnya dari cinta
Ya, itu bukanlah bidang keahlianku
Tapi aku rasa, semua orang pasti memiliki definisinya sendiri-sendiri
Dan itu, hal yang wajar saja kan jika dibicarakan
Karena banyak makna tersurat maupun tersirat darinya
Disini aku memaknainya dari kehidupan kita sehari-sehari
Tentu saja, ia berasal dari sang maha cinta bukan?
DIA-lah yang menanamkan rasa itu kepada semua makhlukNya

Dan kau tau saudaraku, cinta terdekat adalah cinta kepada keluarga kita terlebih dahulu
Ya, seperti dakwah. Yang dimulai dari lingkungan terdekat kita. Siapa lagi kalau bukan keluarga
Pun begitu juga dengan cinta. Dakwah dan cinta tak bisa saling berjauhan.
Karena ini adalah tentang kesatuan.
Memang luas si pembahasannya, tapi aku mohon kau pahami ya, biar tak ada kesalahan diantara kita

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (Q.S. Adz-Dzariyat: 49). Oke, kau tau kan setiap manusia itu punya kelebihan dan kelemahan. Disinilah letak peranan kita. Saling melengkapi, saling mengingatkan pun saling mengisi.
Saat ia ada kelemahan, maka tugas kita adalah melengkapi dengan kelebihan. Pun sebaliknya.
Bisa jadi kekurangan-kekurangan kecil yang ada pada orang yang kita sayangi, itulah yang nanti kita rindukan saat ia telah pergi meninggalkan kita. Maka syukuri hadirnya, terima ia dengan ridho. Orang yang kita sayangi itu hadir satu paket, punya kelebihan dan kekurangan, kita tak diminta cari yang sempurna. Tapi jadikan diri kita penyempurnanya. (Ahmad Rifai Rifan).

Saat ada diantara kita, tak sesuai dengan ekspektasi kita, maka usaha kita adalah mengingatkannya. Bukan malah membiarkannya. Dan kau membelakanginya serta mecucu. Aku tau, mungkin kondisi moodmu lagi tidak bagus, atau karena memang kau adalah tulang rusuk yang jika dipaksa akan patah? Tapi kita adalah sama. Kita hanya butuh saling memahami satu sama lain. Kita hanya butuh saling mengisi dan menggenggam tangan kita satu sama lain. Hanya itu saja. Apa itu terlalu berat bagimu? Kalu kau merasa itu berat, maka jangan sekali-kali kau melapaskan genggaman itu. Aku mohon tadabburi-lah apa-apa yang ada disekitarmu. Kita berjuang bersama. Ya, karena kita adalah satu. Jika kita inginkan negara yang hebat, maka dari diri kita sendirilah perubahan itu harus ditegakkan. Kau mengerti? Aku harap kau bisa menerima ini. Bukan dengan ekspresimu yang mecucu  tak jelas. Dan bukankah, kau pernah di ingatkan oleh seseorang, tentang perjalan kita ke bojonegoro? Seharusnya itu semua kita maknai sebagai tadabbur alam, tak hanya rekreasi biasa.

Aku harap kau bisa menerimanya. Dan aku mohon, kau memintalah padaNya, agar kita bersama dibukakan pintu mata hati dan pikiran kita. Karena ini terlalu romantis jika dituangkan dalam kata-kata yang aku pun tak tau harus mengatakan seindah apa agar kau mengerti. Ayolah, kau lebih tua dariku, seharusnya kau lebih faham, ilmu agamamu pun lebih daripada aku yang tak pernah mengenal pesantren sekalipun. Jadi, aku mohon 'jangan pernah kau lepaskan genggaman tangan itu ya'..

Aku mencintai kalian. Dan maafkan aku..

To be Continued...

Hujan Asa, Hujan Perjuangan

Jika kau hendak  turun, turun saja tak apa. Tapi jika kau betah berada di singgahsanamu, pun tak mengapa. Karena sejatinya kami selalu menyematkan asa kami saat kau hadir.
Sumber: Instagram

Hari ini bingung mau ngepost apa.
Ya, awalnya si target untuk bisa One Day One Post.
Jadi mungkin hasilny kurang semaksimal hari-hari sebelumnya.
Oke deh..
Kali ini mau ngebahas tentan hujan aja deh.
Iya, hari ini memang terlihat mendung sepanjang hari. Hingga ujung sore tadi akhirnya, hujan pun turun.
Ada rasa yang tetiba malas dan ingin libur bertatap muka dengan penerus tongkat estafet ini.
Tapi sontak saja, sosok lain dari diriku ada yang berteriak. Bahwasannya, 'ingatlah dulu ketika kau berada pada posisi seperti mereka.  Sudah jauh-jauh hadir disana, menghadiri majelis ilmu, tapi gurumu nyatanya tak hadir seorang pun. Dan kini, saatnya kau harus menyadari hal itu, agar menimimalisir hal yang sama pada pengambil tongkat itu.'
Dan ternyata benar. Hanya ada aku dan 2 guru lainnya. Sedangkan banyak diantara mereka yang sudah rapih membenarkan diri dan siap mendapatkan ilmu baru.

Ya, pada waktu itu, ketika aku masih berada di posisi mereka, aku benar-benar mengazzamkan bahwa hal itu tak boleh terjadi. Karena sejatinya sosok guru adalah suatu sosok yang harus siap mengabdikan dirinya, dalam bentuk kondisi apapun. Dan semua yang telah ku lalui, hal itu menjadi suatu pengingat yang luar biasa yang pernah aku alami dan itu semua seakan seperti keajaiban.

Terima kasih, dengan disertai hujan, semuanya indah. Dan tetap terus berjuang. Karena memang tugas kita berjuang sampai akhir. Dan selamat hari pahlawan, 10 November 2015

Senin, 09 November 2015

Just Make a Wish


Ada banyak cara IA akan membahagiakanmu
Ada banyak cara IA akan membuatmu tersenyum
Ada banyak cara IA akan mambuat hatimu berbunga
Sumber: internet
Karena IA lah pemilikmu
Yang mengetahui segala yang ada pada dirimu
Saat kau menyerahkan diri kepadaNya
Saat kau berharap lebih padaNya
Saat kau merayu mendayu-mendayu didepanNya
Saat itu kau akan mulai menemukan jawaban indah
Diberi saat itu juga
Diganti dengan yang lebih indah
Atau ditahan sebagai kejutan diakhir cerita
DIA menyukaimu saat kau lebih dekat denganNya
Saat kau mulai ada jarak denganNya
Dengan caraNya pula DIA akan berusaha mendekatkanmu
Melalui peringatan yang nyata pula
Air mata lelah yang menetes karena lillah
Pasti kan dapat hadiah indah dariNya
Sematkan puing-puing doa melalui angkasa
Agar kau jadi bahagia
Kau tak bisa memilih secara nyata
Tapi kau bisa memilih dalam doa dan asa

Minggu, 08 November 2015

Biar Hujan Menghapus Jejakmu


Aku benci  saat rindu itu mulai datang. Karena itu artinya, aku harus menikam rasa itu saat ia hadir.

















Gambar ini mungkin akan merepresentasikan
Bahwa bayanganmu dulu telah ku hapus
Ku tinggalkan dan ku acuhkan
Dan ku biarkan ia pupus begitu saja
Meskipun saat itu tersimpan kisah
Antara aku, kau dan dia
Antara cinta dan persahabatan
Antara hak dan kewajiban
Untuk sesaat waktu itu
Aku terasa asing dimata kalian
Untuk sesaat waktu itu
Aku terasa berbeda jauh sekali diantara kalian
Padahal aku berusaha untuk menyembunyikan
Dan aku berusaha untuk berbaur dengan kalian
Kau pun waktu itu sungguh berbeda
Dan dia juga begitu
Seakan dunia ini hanya tempat kalian
Jangan kau tanyakan apa yang aku rasakan waktu itu
Tatapannya menakutkan ketika kita hanya berbicara seadanya
Tatapannya mencekam ketika kita hanya memandang sebentar
Jangan kau tanyakan lagi apa yang aku lakukan waktu itu
Aku hanya tak mau berada diantara kalian lebih lama
Berharap kewajibanku saat itu cepat selesai
Maka dari itu, meskipun bayangamu tertinggal
Aku berusaha melenyapkanmu dan dia ditengah rintik hujan
Berharap akan ada keajaiban yang datang padaku waktu itu
Tapi, kini pun berbeda
Seakan semua asaku yang dulu ku panjatkan telah terkabulkan
Kau hadir dengan karakter yang jauh berbeda dari sebelumnya
Pun dengan kondisi yang jauh berbeda pula
Tapi, itu tak mengubahku begitu saja
Aku tetap kekeuh untuk tidak bersinggungan dengan hal seperti dulu lagi
Aku tau kondisimu seperti apa untuk sekarang ini
Begitu banyak dicampakkan
Dan kau pun mulai berserah diri
Tidakkah kau menyadari damai yang sejatinya
Percuma saja jika aku mengatakannya padamu
Karena memang ini semua masih rahasia
Rahasia terbesar yang sampai kapan akan terkuak...

Sabtu, 07 November 2015

Semoga Bertemu Kembali


Memang awalnya kita jarang berjumpa
Memang awalnya kita hanya sebentar bertegur sapa
Memang awalnya kita hanya kenal sementara
Sumber: Internet
Memang awalnya kita tak akrab dan dekat seperti sedia kala
Namun karena lillah
Semuanya berlebur menjadi asa
Semuanya berlebur menjadi harapan
Semuanya berlebur menjadi mimpi indah
Semoga kita bertemu kembali dalam cintaNya
Semoga kita bertemu kembali dalam doa
Semoga kita bertemu kembali dalam surgaNya
Cukup tinggalkan wajah ceria kita
Cukup tinggalkan butiran-butiran doa dalam dada
Cukup tinggalkan puing-puing asa setiap malam ke angkasa
Bersama kita berharap kelak akan bersatu sedia kala

Inspired: R'D

Jumat, 06 November 2015

Ini tentang Kita


Seandainya aku bisa mengatakannya padamu
Bahwa aku rindu waktu itu
Sumber: Internet
Saat kita semua bersama berkumpul jadi satu
Semua asa dan harapan melambung
Semua tawa dan canda
Menyelimuti suasana ruang tengah
Tak ada lagi kata mencela
Tak ada lagi kata mencerca
Yang ada saling berbagi
Yang ada saling mengisi
Yang ada saling menghiasi
Karena kita adalah big family
Kau dan aku adalah satu
Kau dan aku adalah sama
Kau dan aku adalah insan bahagia
Kau dan aku adalah pondasi terkuat
Bersama mencari mimpi baru
Bersama menggapai harapan indah
Bersama menciptakan pelangi termegah
Bersama membangun istana berberkah
Ya, karena kisah ini adalah milik kita
Yang akan berakhir dengan air mata teristimewa
Yang kelak kita akan bertemu di surgaNya
Semoga ini akan menjadi nyata
Yang memang dipertanggungjawabkan prosesnya
Mari genggam tanganku
Mari kita bersatu
Kita bersama menuju garis kemangan yang sejati
Mari genggam tanganku
Mari kita bersatu
Kita bersama menuju garis kebahagiaan yang murni
Semayamkan dalam harimu
Senyum terhangat yang terlihat syahdu
Kan nantinya menjadi saksi bisu
Atas perjungan kita di langit biru

Kamis, 05 November 2015

Di Jalan Dakwah Aku Merindukanmu

Ini lebih dari teman. Tapi tentang persaudaraan yang terikat karena Allah. Dari lingkaran SKI SMAGALAS-lah aku menemukan kehangatan kalian. Semoga kita bertemu lagi di SurgaNya, atau di tempat indah yang Allah sediakan untuk kita.

Entahlah, tetiba seluruh memoriku berjalan ke kenangan kita saat kita ada pada lingkaran itu. Ya, lingkaran halaqah saat mengaji bersama, saat diskusi bersama, sesi curhat, bahkan sesi kuliner atau rujak buah bersama.
Sumber: Dok.Pribadi
Dan kalian tahu, saat itu adalah hari libur besar Indonesia untuk memilih presiden yang sekarang jadi pemenangnya adalah Pak Jokowi. Tentu saja, setelah melaksanakan kewajibanku untuk mengeluarkan hak suara, aku segera ke rumahnya, Ella.  Ya, waktu itu kami berupaya survey mencari lokasi sebagai tempat acara buka bersama dengan anak yatim piatu. Ya, memang itulah agenda yang hampir tiap rutin kami, para alumnus 'oksida' (Oknum sains dua), lakukan. Selain mempererat tali silaturrahim seangkatan, juga sebagai ladang kita mengumpulkan bekal nanti di akhirat.

Ya, memang awalnya hanya terbesit untuk survey lokasi. Dan kalian tau, ketika di jalan raya, aku sempat berharap akan bertemu dengan Baiq. Dan benar saja, ketika ada di pertigaan rolak, aku melihat Baiq mengendarai sepeda motor dengan sangat cepat, berusaha agar tetap mendapati lampu hijau yang masih menyala.  Ya, aku mengenalimu. Karena selain jlibabmu yang berkibar, bak wanita menunggang kuda pada zaman rasulullah, karena hati ini telah menginginkan perjumpaan itu. Sontak saja, aku memberitahukan Ella, yang memboncengku saat itu.

"Hey, kau lihat perempuan berjilbab merah barusan lewat tadi di depan kita?"

"Yang mana? Aku tak mengenalinya."

"Yang pakai motor matic biru. Itu teman kita, Baiq. Tidakkah kau menyadarinya?"

"Ah, serius kamu? Yang benar saja?"

Sebenernya, disituasi jalan raya yang sepi seperti ini, rasanya aku kangen dengan kalian, akhowat. Rindu ini semakin membuncah. Ah, iya, bagaimana kalau nanti aku mengajak Ella untuk datang ke rumahnya. Mungkin itu ide yang bagus. Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Menanyakan kabar mereka, sekolah meraka, atau hanya melihat senyum indah mereka. Baiklah.

"Ya, bagaimana ini? Lokasi yang kita survei tak memungkinkan. Terpaksa kita harus ke panti asuhan terdahulu."

"Iya, tak apa-apa. Mungkin memang inilah yang terbaik bagi kita. Senyum semangat dong, El, bagaimana kalau kita balik ke tempat kita, atau kita bersilaturrahim ke rumah Baiq? Kita kejutkan ia dengan kehadiran kita. Aku tadi melihatnya, pasti ia sedang liburan dari ITS. Bagaimana?"

"Wah, ide bagus. Ayo.."

Setelah kami ke rumahnya, ternyata kosong. Tak ada orang sama sekali. Akihrnya kami memutuskan untuk ke rumah neneknya. Dan akhirnya pun kami mendapati ia dengan terkejut.

"Baiq, ada temanmu jilbaber, hitam pula. Anak rohis mungkin." Suara kakaknya terdengar dari kehauhan.

Ah, pasti itu aku. Kenapa dibilang jilbaber gini? Padahal aku berusaha lebih syar'i dan sporty. Toh ini perintah langsung dariNya, dan hal ini membuatku lebih aman. :3

"Siapa ya mbak? Aku barusan datang."

"Lihat saja keluar."

"MasyaAllah, kalian. Ella dan Wardah ternyata. Kenapa kalian disini? Darimana kalian tahu kalau aku sekarang ada di rumah nenek?" Wajah Baiq terlihat terkejut.

"Tentulah, karena kita adalah musafir cinta. Jadi kita pasti akan bertemu di jalan.." Jawabku sekenanya yang terinspirasi film India.

Akhirnya tawa kami pecah seketika itu. Berbicara lumayan panjang lebar. Dan akhirnya, aku punya ide lagi untuk memberikan kejutan kecil untuk datang ke rumah Mar'atus.

"Ayo, kita ke rumah Mar'atu?. Ya meskipun hanya sebentar. Paling tidak kita beri kejutan sedikit. Biar saja kita tak perlu menghubunginya. Mudah-mudahan saja ia di rumah."

"Ayo.." Jawab mereka serentak dengan semangat. Tak kukira ternyata mereka lebih semangat dariyang  aku bayangkan sebelumnya.

Dan kedaan yang sama pun terjadi di rumah Mar'atus. Cair. Keadaan menjadi lebih dingin ketika kami berjama'ah bersama di musholla kecil di rumahnya. Dan justru kali ini yang ngebet sekali untuk memberikan kejutan lagi adalah Mar'atus. Ya ke rumah Eka Mai.

Ya, hanya disini kami menatap mata satu sama lain lebih lama dari sebelumnya. Melepaskan kerinduan yang lama terpendam. Menatapi bentuk muka mereka, garis senyum mereka, suara tawa mereka. Meskipun aku yang tertua diantara mereka, tapi kehadiran mereka membuatku lebih muda dari sebelumnya.. Hehe. Dan disinilah kami berusaha untuk menangkap moment indah itu, yang tak tahu kapan akan terulang lagi. Ana ukhibbukum fillah.

Oya, tertinggal. Setelah di rumah Eka, kami semua pergi ke tempat teman kami, Novi. Tapi, Novi ini adalah laki-laki. Ditengah mendiskusikan tempat survey, aku harus bergegas pulang karena orang rumah sudah memanggilku, ada keperluan yang harus aku selesaikan. Dan itu artinya jam tayangku dengan mereka sudah habis. Meskipun begitu, aku sangat mensyukurinya, bhawa pengharapanku telah terkabulkan olehNya.

Rabu, 04 November 2015

Surat untuk Abah Bag.2


 Baiklah, Abah. Cepat atau lambat, akan segera aku temukan jawabannya. Meskipun hal itu membuatku harus menilisik lebih jauh dan lebih dalam tentang hal itu. Karena ini semua adalah rahasia. Dan tugas kita hanyalah berjuang untuk menemukan hal itu.

Abah, disaat aku mulai jengah dengan semua hal ini, tetiba ada seseorang yang mengirimkan sebuah gambar kepadaku.
Sumber: Internet
Ya, gambar itulah yang ia kirimkan kepadaku. Meskipun kami jarang bertemu, jarang bersapa, tapi namanya selalu berada dalam memoriku. Memang dulu awalnya kami sempat bertengkar hebat, dan hal itu membuat kami tidak bertegur sapa. Tapi tenang, tidak sampai 3 hari kok. Dan lambat laun, aku pun memahami semuanya. Hingga kini. Ya, Abah.

Meskipun nantinya akan banyak air mata, yang tidak begitu banyak seperti engkau maupun pendahulu dulu, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mereka. Dan engkau tahu, Abah. Dulu, ketika kami sekeluarga hendak berziarah ke makam, ya tepatnya di tahun 1436H kemarin ini, ada rasa yang menyayat hatiku. Tapi aku senang akan rasa itu.. Ya, saat kami izin ke makam, mak Abah, kami pun tentu ke makam para kakek buyut kami. Dan, ibuku menceritakan kisah meskipun hanya sebentar. Ya, diantara makam para pendulu-penduhulu kami sempat dibongkar, dan ternyata jenazahnya masih utuh. MasyaAllah, aku terenyuh, rasanya ketika waktu itu air mataku ingin menetes. Tapi aku sanggah ia. Malu lah, Bah, masak ya diantara mereka aku harus seperti itu. Aku hanya menatapi wajah kedua orangtuaku dan kakak-kakak serta adikku. Mungkin saat itu para pejuangMu sedang menyaksikan kami. Dan entahlah, Bah, saat itu aku berharap sekali kalau kita semua akan bersatu seperti dulu. Ya, meraih kemenangan yang sejatinya. Atas apa yang kita lakukan. Aku rindu sekali waktu itu. Aku rindu saat Abah tersenyum saat melihat album kenangan yang ada di lemari kamar. Mungkin Abah saat itu sedang mengulang memori Abah bersama anak-anak Abah dengan lamat-lamat. Damai, Abah. Iya, hanya itu yang aku inginkan. Kita semua adalah satu. Dan Abah tau, bahwa aku pernah bermimpi kita semua berada di taman yang sungguh luarbiasa indahnya. Tak terbayangkan sebelumnya. Semua. Bani Mukhid. Dan Bani Hanafi. Semoga hal itu menjadi nyata. Aamiin. Hanya satu hal yang aku ingin engkau ketahui, bahwa aku rindu. Ya, rindu sekali, amat sangat. Kita semua. Aku mencintaimu, kalian, dan mereka..
Aku menyebut ini Endless Love..
Allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, wa'ala ali sayyidinaMuhammad..

Selasa, 03 November 2015

Jemput Kebahagiaanmu dengan Syukur dan Senyum


Diluar sana, adalah tempatNya
Sumber: Internet
Segalanya indah dipandang mata
Segalanya sejuk tuk dirasa
Keluarlah, serta tadabburi alam, agar kau menjadi bahagia
Jemputlah ia dengan syukur serta suka rela
Namun jangan kau salah mengartikannya
Bahwa itu semua sebagai penawar rasa
Yang untuk sesaat telah membuatmu dahaga
Bahwa itu semua sebagai pelipurmu dikala lelah
Yang untuk sesaat telah membuat hilang asa

 
Inspired: Ibu jus yang cerewet manis (^,^")v

Senin, 02 November 2015

Surat Untuk Abah


Sumber: Instagram
Dari awal aku menyebut perjungan ini sebagai cinta. Cinta itu memang ikhlas. Iya, seperti Qur'an surat Al-Ikhlas, yang didalamnya tak ada kata-kata ikhlas sekalipun.

Abah, aku rindu seperti dulu. Ketika hanya aku dan engkau berada di teras menjelang maghrib sembari melihat lalu lalang orang-orang mencari rezeki untuk bekal berbuka mereka saat itu. Terlihat mahasiswa ITS yang mendominasi dikeramaian para pedagang yang menggelar lapak mereka. Ya, jauh sebelum istana abah berubah seperti sekarang. Aku rindu waktu itu Abah. Saat dimana engkau menceritakan masa kecilmu, saat-saat engkau berlatih untuk melawan para penjajah selepas pulang sekolah. Pun ketika masa muda Abah, yang pernah Abah ceritakan padaku saat itu.

Abah, sebenarnya ada satu hal yang sangat ingin sekali aku bicarakan padamu. Ini tentang dakwah, Abah. Tapi aku rasa aku tak bisa melakukannya. Tak bisa ku tanyakan pada waktu itu juga, ketika matahari mulai terlihat dari ufuk barat. Karena memang, kondisi dan waktulah yang memisahkan kita. Tapi tenang, aku mengagumimu dari kejauhan serta doa kami sekeluarga akan ada untukmu. Sering sekali aku mendengar masa-masa perjuanganmu dari ibuku. Ya, ibu selalu menceritakan sosokmu kepada kami semua, terutama tentang perjuangan dakwahmu.

Ditengah-tengah kau menyiarkan cintaNya, ada suatu distorsi sehingga membuatmu harus bersembunyi. Ya, menyembunyikan diri dan mengamankan diri dari serangan benda tajam yang dibawa mereka, yang tak lain adalah orang disekitarmu saat itu. Mendengar hal itu dari cerita ibu, aku hanya bisa tertegun. Aku tak bisa membayangkan saat-saat itu, keluargamu dan ibuku pada waktu itu. Pun aku tak bisa membayangankan apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena memang, cerita dari ibu selalu berakhir tanpa titik, ya selalu menyisakan koma yang harus dipelajari maknanya.

Abah, tetiba aku teringat dengan perjuangan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah menyiarkan cintaNya, sampai-sampai beliau dihantui akan dibunuh pada zaman itu. Dan hal itu tak jauh beda dengan kondisi Abah saat itu juga. Jika Nabi saja bisa sekuat itu, dan Abah bisa setegar itu, lalu bagaimana dengan generasi kami Abah? Aku mohon engkau membantuku untuk bisa tetap kuat untuk mengemban amanah dan membawa 'tongkat estafet' itu, Abah. Sebenarnya aku ingin sekali engkau mengajariku tentang 'keikhlasan' yang benar-benar mendarah daging padamu.

Ya, dari awal aku menyebut perjungan ini sebagai cinta. Cinta itu memang ikhlas, Abah. Iya, seperti Qur'an surat Al-Ikhlas, yang didalamnya tak ada kata-kata ikhlas sekalipun. Pun seperti gula yang dimasukkan kedalam minuman. Terasa manisnya, namun ia tak kelihatan.

'Tongkat estafet' ini memang berwarna emas. Dan diperlukan kekuatan yang besar pula untuk membawanya sampai akhir. Dan kini aku mulai mengerti, Abah. Hanya satu kekuatan yang kita punya. Ya, bersumber pada yang maha Satu, sang Esa-lah yang benar-benar menguatkan kalian. Aku pun berharap seperti itu. Mungkin memang ilmuku masih dangkal untuk bisa 'merayuNya', tapi aku mohon Abah, ajari kami seperti engkau, dengan 'pundak' yang begitu kekar dan kokoh.

Bersambung....

Karena Kita adalah Satu


Oke, tetiba teringat analogi atau perumpamaan yang tiba-tiba saja muncul ditengah jalan pagi ini.
Hari ini aku akan mengikuti ujian tengah semester, dan tentu aku harus berangkat lebih awal karena aku harus mengantarkan kakakku saat itu. Sinar matahari pagi itu memekakkan pupil mata yang terlihat sangat kecil. Tentu saja, pagi saat itu membuat banyak orang berjubel di jalan raya, karena adalah hari pertama untuk beraktifitas di bulan november. Saat di tengah kemacetan kota metropolitan ini, tetiba aku mulai hilang kendali. Setirku harus berpacu dengan kendaraan yang lain. Dan hampir bertenggoran dengan kendaraan lain. Sontak saja, penumpang yang ada dibelakang punggungku yang tak lain adalah saudaraku sendiri, menarik-narik jaketku, yang tak lain untuk mengingatkan aku agar tetap berada di jalur sepeda.
Ya, begitulah perjalanan ini kami lalui. Sama halnya dengan kehidupan yang kita jalani. Sejatinya manusia diciptakan berpasangan, ya memiliki teman hidup. Coba deh buka Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 49 dan resapi artinya yang dikandungnya “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”
Dari sinilah, kami saling meningatkan jika kami 'hilang kendali'. Pun, begitu juga dengan keseharian kita. Jika memliki saudara atau teman yang sangat peduli kepada kita, maka selayaknya kita mengapresiasi hal tersebut. Karena hidup dengan memiliki 'pendamping' itu lebih baik daripada harus sendiri. Karena memang pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan pelupa, maka dari itu, dengan hadirnya mereka yang DIA kirimkan kepada kita, itu merupakan suatu anugerah yang patut kita syukuri.

Inspired: ENF 
02112015

Jumat, 30 Oktober 2015

Cinta itu Ikhlas


Kau tau kan arti sesungguhnya cinta? Ya cinta itu ikhlas. Apapun bentuknya cinta, entah kau cinta duniawi, cinta sesama makhluk, ketika kau sudah memulai menghadirkan cinta itu semua, maka bersiaplah untuk selalu menghadirkan rasa ikhlas juga.
Ya, tentu saja ikhlas itu ada sebelum, saat dan sesudah. Namun kali ini aku tak akan bicara lain-lainnya. Kali ini aku hanya ingin membahas tentang cinta sejati. Kau tahu kan, kalau cinta sejati itu adalah kau hanyalah cinta kepada sang pemberi cinta. Ya, sangat amat dengan ikhlas. Pasti kau tau kan kalau cinta sesama manusia saja, kadang cinta kita diuji. Apalagi cinta dengan sang pemeberi cinta langsung, ya sama sang maha cinta. Maka tingkat kecintaan kita tak akan kalah lagi pengujiannya. Apalagi DIA sudah tau (pastilah ya, maha mengetahui gitu loh) kalau cinta kita itu tulus, hanya untukNya. Maka dari itu, kita akan benar-benar diuji tingkat kecintaan kita padaNya. Apakah kita masih bertahan untuk tetap mencintaiNya, atau sudah gugur ditengah jalan bak pahlawan yang gugur bunga?

Saat kau mulai mengazzamkan sesuatu hal, yang menurutNya itu mulia, maka saat itu pula DIA akan menitipkan sebagian kekuatanNya padamu. Lalu DIA tak kan main-main untuk mengabulkan pengazzaman itu beriringan berbagai ujian dengan senjata yang sudah DIA titipkan kepadamu. Namun pertanyaannya adalah sekuatkah itu dirimu membawa senjata yang telah DIA titipkan kepadamu? Dan yang bisa kita lakukan adalah meminta bantuan langsung kepada yang memberi senjata tadi.

Ya, cinta itu ikhlas. Jika kau hanya memandangi mereka saja, niatan awalmu akan gampang pudar. Tapi, jika kau hanya memandangiNya, kau harus lebih menguatkan dirimu untuk tetap berada disana, dimana kau menaruh cintamu padaNya.

Kalau memang itu benar cinta, kenapa harus berakhir dengan air mata

To be continued

Kisah Indah Kisah Rahasia


Dia tak pernah cerita
Hanya diam seribu bahasa
Jika ia telah memiliki sang pujangga cinta
Dia hanya menyimpannya dalam dada
Mungkin hanya bertemu dalam doa
Mungkin tak sempat bertatap muka
Karena mungkin baginya ini hanya permainan semata
Tapi aku masih bertanya-tanya
Adakah benar adanya
Mengenai kisah mereka
Yang memang masih rahasia

Inspired: ENF

Rabu, 28 Oktober 2015

Selamat Jalan, Dunia Kita Berbeda


Kau tau teman, ini semua bukan mengenai ketenaran. Bukan pula kenikmatan seperti yang kau bayangkan selama ini. Dari awal aku menyebutnya ini sebagai amanah. Berharap sang pemberi amanah memberikan keajaiban mengenai kekuatan yang IA turunkan pada pundak ini.

Kau tau teman, dari awal sama sekali tak ada mimpi mengenai ini semua. Tapi keadaan yang memaksa, keadaan yang mengharuskan. Dan asal kau tau teman, tentu keadaan ini semua telah IA takdirkan. Itu artinya, aku bukanlah terbaik namun terpilih. Dan tentu tugasku hanyalah berusaha, berjuang untuk bisa mengemban amanah itu. Jika saat aku mendengar pertanyaanmu tadi, hal itu membuatku shock.

Dari awal aku berdoa agar kita bisa saling klop satu sama lain. Agar bisa melengkapi satu sama lain. Tapi nyatanya? Nyatanya, dan sepertinya IA ingin menunjukkan bahwa pilihanku adalah salah dalam memilihmu dalam perjuangan kita selama ini. Cintamu dalam perjuangan kita tak seikhlas yang aku bayangkan. Harus apalagi yang aku lakukan atas selama ini? Berpura-pura pun, nyatanya semua itu tak sengaja terbongkar. Memang aku tak ngeh saat kau bilang dari awal, kenapa masih memilihmu dalam lalu lintas perjuangan kita, yang bisa dibilang hampir 4 tahun. Mungkin aku terlalu bodoh dalam melihat sosokmu. Maafkan aku, jika selama ini aku telah salah melihatmu. Mungkin yang dikatakan mereka adalah benar. Mungkin memang cukup sampai disini. Tapi entah apa yang akan terjadi esok?

Sumber: Internet

Aku mohon janganlah kau pergi
Aku tak mau kehilangan dirimu
Ku akui kau punya semangat gigih
Namun aku tak mengetahui secara pasti
Tentang alasanmu untuk menjaga itu
Belum pernah aku memohon seperti ini padamu
Tolong jangan biarkan aku rindu pada yang belum halal
Biarkan aku rindu padamu terlebih dahulu
Sebelum ku merindui kekasih halalku
Biarkan aku menjaga kenangan yang kita lalui bersama
Sebelum ku dapatkan kenangan indah terbaru
Aku tak tahu pasti apa yang terjadi diantara kita
Namun dadaku terasa sesak saat kau tak ada disampingku
Bibir ini terasa tak bisa berucap
Namun mata hati ini selalu ingat namamu
Sekalipun kau acap kali hiraukan aku
Namun hati ini tak bisa lepas dari kenangan dulu


28 Oktober 2015 bertepatan dengan sumpah pemuda, listening tetap dalam jiwa

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sepotong Diam Aku Mengagumimu



Judul Buku                         : Sepotong Diam
Pengarang                          : Syaiful Hadi
Cetakan                              : Pertama
Tahun Terbit                       : September 2015
Jumlah Halaman                : viii + 377
ISBN                                  : 978-602-7692-76-3
Tebal Buku                         : 2,5 cm
Genre Buku                        : Fiksi
Harga Buku                        : Rp.63.000;
dok.pribadi
Memangnya, siapa yang mau terlahir dengan kondisi cacat? Kaki kanan lebih kecil daripada kaki kiri, sehingga membuat Khalid tak bisa menaiki sepeda motor selama hidupnya. Tapi, hal itu tak membuat ia pantang menyerah dalam segala kondisi apapun.
Ya, pemuda itu bernama Khalid. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang memerjuangkan antara studi dan kisah cintanya. Dibalik keterbatasannya, tersimpan semangat menggelora bak pahlawan yang membuat ia dikagumi oleh mayoritas para perempuan di IPB, termasuk Dhisya, teman seangkatan yang akhirnya bertemu secara langsung, bertatap muka, mengobrol, ketika berada pada daerah pedalaman dalam misi pengabdian.
Namun, ketika niat serius untuk menikahi Dhisya, banyak rintangan yang mengharuskan Khalid berjuang lagi untuk mendapatkan restu dari orangtua Dhisya. Setelah beberapa tahun menunggu hal itu dan mendapatkan restu, ternyata takdir berkata lain. Dhisya telah berpulang menghadap sang Penciptanya.
“Sejak awal perjuangan ini kunamai tangga, tinggi menjulang dan terjal. Tapi kamu tahu, setapak demi setapak sudah kita lewati. Berat memang, tapi sadarlah satu hal, puncak itu sekarang semaik dekat.
Belajarlah pada malam. Semakin jauh ia, maka akan semakin gelap dan pekat. Tapi justru ketika semakin gelap dan pekat itulah cahaya pagi yang benderang sebentar lagi datang. Sama seperti masalah kehidupan. Semakin berat masalah itu, makin dekatlah ia pada jalan keluar. Percayalah!”
Ya, buku ini menceritakan semangat perjuangan sang Khalid, seorang pemuda polio sejak kecil. Meskipun terbata-bata dalam bergerak, tapi semangat yang ia punyai melebihi manusia normal. Buku ini memberikan suntikan semangat bagi pembacanya, terutama bagi mahasiswa yang merasakan ‘lelah’ dalam pejuangannya dalam menuntut ilmu. Pun segala bumbu-bumbu yang berbau percintaan dalam buku ini dikemas dengan indah. Tak meninggalkan kesan syar’i. Sehingga bisa dijadikan salah satu referensi contoh dalam pergaulan sehari-hari. Bahasanya pun ringan, sehingga mudah dipahami bahkan pembaca bisa merasakan situasi yang ingin dipaparkan oleh sang penulis. Alur ceritanya pun juga mudah dipahami, sehingga memberikan kesan bahwa kita (red, pembaca) ikut merasakan didalamnya.
Karena buku ini merupakan cetakan pertama, dimana dalam proses penerbitannya masih menerbitkan sendiri bukan dari penerbit, jadi masih terlihat beberapa kakta yang salah ketik, yang namun hal itu tidak terlalu banyak mengubah makna dari kata itu sendiri. Jadi buku ini layak dibaca terutama ketika waktu senggang, sebagai amunisi tambahan kita (red, pembaca) tatkala sedang down, apalagi.^^