Senin, 19 November 2012

Insan Biasa


 Kita hanyalah insan biasa yang tak bisa lepas dari kekuasanNya..
Kita hanyalah insan biasa yang tak bisa lepas dari ridhoNya..
Kita hanyalah insan biasa yang haus akan cintaNya..
Kita hanyalah insan biasa yang rindu akan kasih sayangNya..
Kau berjuang dijalanNya dengan caramu sendiri..
Aku berjuang dijalanNya dengan caraku sendiri..
Berharap suatu saat nanti kita dapat berjumpa di surgaNya..
Bersama hamba-hambaNya yang lain..
Satu tujuan, satu visi, satu misi, satu keyakinan..
Kan memenangkan hati kita..
Yang menjadi penghargaan atas usaha kita..
Yakinlah kita kan mendapatkan itu semua..
Yakinkan pada diri sendiri bahwa  IA kan membalas ketabahan kita..
Yakinkan pada diri sendiri bahwa  IA kan membalas keikhlasan kita..
Yakinkan pada diri sendiri bahwa  IA kan membalas kesabaran kita..
IA kan menjawab semua kegelisahan hati hambaNya pada waktu yang tepat..
IA kan menjawab semua kegundahan hati hambaNya dengan cara yang indah..
Berharaplah padaNya agar IA memberikan yang terbaik..
Pada diri kita, mereka, dan tentu pada agamaNya..

SECRET ADMIRER


    Pagi cerah memecah rasa malas Diya untuk segera bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat ke perpustakaan daerah yang berada didekat rumahnya. Ia tidak mau melewatkan kesempatan 'indah' yang tak sengaja ia temui sebelumnya. Waktu itu ia sedang melihat buku-buku sesuai dengan seleranya yang berada dibagian rak ilmu teknologi. Tiba-tiba saja ia melihat seorang laki-laki yang dilihatnya sebagai sosok yang bersahaja berjalan menuju kerahnya. Dengan segera ia memalingkan pandangan dari laki-laki tersebut seraya beristighfar dalam hati.
    Tak lama setelah menemukan buku yang dicarinya, Diya segera mencari tempat duduk untuk segera melahap bacaannya. Ia sibuk berpikir dalam pikirannya untuk memahami bacaannya, berangan-angan mengenai bacaannya dan mencoba untuk menuliskan pemahamannya diatas buku sakunya dengan tinta biru. Tinta yang membuatnya tetap bisa bersemangat ketika menulis. Saat menumpahkan buah pemikirannya, tiba-tiba sosok laki-laki yang dilihat sebelumnya berada tepat duduk didepannya. Saat itu juga Diya mulai tidak konsen dengan apa yang dibacanya. Yang sebelumnya ia menumpahkan buah pemikiran mengenai buku bacaannya, sekarang mulai berpuisi ria menjauh dari topik bacaannya.
    Tuhan selalu adil kepada hambaNya
    KAU menghadirkan teman pada burung itu yang sembari berdiri sendiri diatas pohon bertuah
    Tuhan selalu memberikan kasih sayangNya pada umatNya
    KAU memberikan rasa cinta dan menumbuhkannya pada jiwa-jiwa yang haus akan cintaMu yang sebenarnya
    Dengan izinMu perkenankanlah aku untuk mendapatkan yang seperti ia
    Seperti jiwa yang senang dengan sebenar-benarnya cinta dan kasih sayang
    Tetapi jika tak dapat kuperoleh izin itu maka izinkanlah aku untuk dekat dengan yang sepertinya
    Dengan yang penuh rasa indah seindah-indahnya Kau menghadirkannya seperti saat-saat bahagia
    Setelah merasa tidak fokus dengan apa yang telah terjadi dalam dirinya, Diya segera meninggalkan tempat perpustakaan dengan tergesa-gesa.
    Dan hari ini ia berharap bertemu dengan orang laki-laki itu untuk yang kedua kalinya. Tetapi situasi dan kondisilah yang tak mengizinkannya. Dengan ekspresi yang datar-datar saja Diya pulang ke rumah dan membuka kembali buku bacaannya yang telah dipinjamnya itu. Seperti biasa ia membuka buku sakunya dan menuliskan semua pemikirannya yang terpendam rapi dalam pikiran dan hati.
    Selang seminggu kemudian disaat yang tak terduga ia bertemu dengan sosok laki-laki yang bersahaja itu. Kali ini berada di taman buku. Tempat dimana biasanya digunakan sebagai pameran buku-buku tiap minggunya. Memang Diya tak mengharapkan kesempatan itu datang kembali untuk yang berikutnya, tapi keajaibanlah yang menghadirkannya. Ia hanya memandangnya dari kejauhan sudut bangku yang didudukinya sambil memandang kearah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
    Selama ini aku merasa telah mengacuhkan cinta dan kasih sayangMu
    Tapi tidak untuk kali ini
    Aku tersadarkan dengan dirinya yang Kau hadirkan dihadapanku
    Akan kusadari dalam hidupku tiap hari
    Betapa suci nan indahnya Engkau
    Engkau yang selama ini dalam hati nurani
    Akan kusirami raga ini dengan adanya dirinya
    Yang telah membangun kembali rasa cintaku padaMu